Artikel

Saatnya Generasi Milenial Berpolitik

Sisi Positif Bila Milenial Terjun Berpolitik

iqnal perindo | Sabtu, 18 November 2017 - 12:53:41 WIB | dibaca: 470 pembaca

Kegiatan Futsal Oleh DPP Pemuda Perindo

Anak muda adalah generasi yang selalu gelisah. Idiom ini berlaku sepanjang masa, di komunitas manapun, dan di belahan bumi mana saja. Sejarah peradaban manusia mencatat beragam perumahan digerakkan dan melibatkan generasi muda.

Begitu juga di Indonesia sejak masa pergerakan, revolusi kemerdekaan, era pembangunan hingga saat ini. Energi anak muda senantiasa membuncah, menggeliat dan menyebar serta menular.

Jika menukik pada pertanyaan: apakah tindakan dan pemikiran generasi muda kini cenderung apatis, peduli, positif atau negatif? Sependek yang bisa dicermati, apapun kecenderungan mereka adalah reaksi mereka pada lingkungan dan sistem.

Generasi muda yang apatis bisa jadi buah dari kekecewaan pada sekitarnya. Sebaliknya banyak pula anak muda yang bergerak aktif menggerakkan perubahan lantaran juga merespons situasi lingkungan dan akhirnya “memilih menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan”.

Anak-anak muda, atau yang sekarang lebih sering disebut sebagai generasi milenial, dipandang memiliki beberapa karakter tersendiri.

Mereka enggan menerima informasi satu arah dan lebih bisa menerima informasi yang diolah serta disampaikan oleh perorangan, sering disebut sebagai User Generated Content (UGC).

Mereka sendiri juga menjadi produsen dari informasi yang berbasis testimoni seperti itu. Artinya generasi milenial saling menjadi influencer, menjadi aktor yang dapat mempengaruhi satu sama lain. Mempengaruhi lingkungan dan sesamanya, baik positif maupun negatif.

Istilah generasi milenial sendiri merujuk pada anak muda kelahiran rentang tahun 80an, 90an hingga 2000 dan selanjutnya. Usia mereka antara 15-35 tahun.

Generasi milenial juga sangat akrab dengan media sosial, sebagai imbas dari paparan teknologi informasi yang melaju kencang.

Tak hanya memengaruhi pola interaksi, komunikasi dan konsumsi, media sosial juga menjadi saluran mewujudkan eksistensi sekaligus bisa menjadi etalase kegelisahan mereka.

Penggunaan media sosial oleh generasi milenial juga dapat menjadi gambaran bagaimana mereka lebih menyukai interaksi horizontal.

Di sini terlihat bagaimana anak muda cenderung lebih egaliter, setara, dan terbuka terutama ketika bercericit dan berkomentar tentang situasi sosial, politik dan ekonomi di akun media sosial.

Sayangnya, perhatian dan kepedulian generasi milenial di saluran media sosial cenderung merupakan sikap reaksioner.

Meskipun dapat berpotensi menjadi kekuatan penekan alias pressure pada suatu kebijakan, namun jika tidak dikelola maka tidak banyak berlanjut.

Bahkan jika tidak hati-hati dan bijak bisa terjerat pasal-pasal Undang-undang Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE (UU ITE).

Nah sampai di sini, alih-alih membuang energi untuk memperdebatkan lebih banyak mana pengaruh generasi milenial yang positif dan yang negatif di interaksi riil maupun maya, maka lebih baik energi mereka difasilitasi dan kegelisahan diakomodir serta mendapat tempat untuk berekspresi.

Salah satu langkah untuk mendorong partisipasi generasi muda adalah memfasilitasi mereka pada kegiatan politik melalui aktivitas organisasi dan pemberdayaan komunitas di mana mereka mengasah kebersamaan, kepedulian, dan kepemimpinan.

Selain itu, upaya edukasi pada generasi milenial perlu dilakukan guna mendorong mereka mengenal dan memahami politik sebagai suatu jalan untuk membuat perubahan.

Pandangan generasi muda sebagai generasi yang apatis bisa jadi lantaran wawasan dan pengetahuan tentang politik yang terbatas sehinggan memengaruhi persepsi tentang politik.

Atau bisa juga pandangan bahwa generasi milenial sebagai generasi pasif hanyalah ego para generasi yang lebih tua, yang enggan memahami kegelisahan anak muda.

Sekolah Politik

Hadirnya sekolah-sekolah politik di berbagai komunitas dan lembaga, termasuk yang diselenggarakan partai politik, dapat menjadi pemantik partisipasi politik generasi milenial.

Juga bisa menjadi wadah dan koridor yang memadai untuk menyalurkan energi positif mereka guna mendorong perubahan.

Kembali ke potensi generasi milenial yang dapat saling memengaruhi satu sama lain lewat pola peer to peer atau interaksi sebaya, serta menjadi pendengung bagi komunitas dan lingkungannya, maka edukasi yang diperoleh di sekolah politik dapat tersebar lebih sistematis dan mengena.

Sekolah politik yang digelar oleh DPW Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Provinsi Jawa Barat dapat menjadi contoh yang bagaimana generasi milenial sangat antusias untuk berperan sebagai agen perubahan. Dalam setiap sesinya per minggu, peserta mencapai 50 hingga 150 orang.

Predikat sebagai partai terbuka juga ditunjukkan Perindo lantaran dari puluhan dan ratusan peserta sekolah politik Perindo, masyarakat umum juga ikut serta bahkan dipersilakan untuk hadir.

Inklusivitas juga terlihat dari pemateri terlibat. Perindo Jabar menghadirkan pemateri dari banyak kalangan termasuk akademisi, budayawan, hingga pejabat negara.

Kalangan pejabat yang pernah diundang Perindo Jabar dalam diskusi tersebut misalnya Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum hingga praktisi hukum Jhoni Martiyus.

Bagi Perindo sendiri, sekolah politik seperti ini mendatangkan benefit karena atmosfer dan interaksi saat diskusi berlangsung setara dan dua arah, suatu pola komunikasi yang disukai generasi milenial.

Partai berlambang rajawali ini pun berpeluang untuk memanen simpati dari anak-anak muda.

Selain itu, sekolah politik dapat menjadi wadah yang baik untuk kaderisasi dan mempersiapkan anak muda yang berkualitas ke depan.

Sekolah politik juga memfasilitasi bagaimana memahami, merespons dan mengolah isu melalui pendekatan riset dan kajian yang komprehensif.

Kembalikan Citra

Terlibatnya anak-anak muda diharapkan pula mampu mengembalikan citra politik yang sebagaimana mestinya.

Bahkan anak muda langsung menjadi aktor yang membentuk citra politik yang bersih dan demi memastikan kepentingan masyarakat terpenuhi termasuk dalam mewujudkan kesejahteraan.

Dengan bekal edukasi politik yang terus terasah, penggunaaan media sosial oleh generasi milenial pun dapat lebih bermanfaat.

Jika sebelumnya sebagian digunakan untuk eksistensi personal maka selanjutnya anak-anak muda dapat lebih mengedepankan esensi dan menebar vibrasi yang lebih bermanfaat bagi masyarakat yang lebih luas. Juga dari sekadar reaksi, menjadi aksi yang berkesinambungan.

Menajamkan pemahaman politik generasi milenial menjadi semakin penting dan mendesak jika kita menilik bakal dituainya bonus demografi pada periode 2020-2035 yaitu ketika jumlah usia produktif diproyeksikan mencapai 64 persen dari total penduduk 297 juta jiwa.

Sebagai gambaran pada 2014 saja, rentang usia 16-30 tahun, sudah mencapai 61,8 juta orang atau 24,5 persen dari total jumlah penduduk.

Populasi penduduk muda ini perlu diantisipasi dan untuk itu generasi milenial sendiri pun mesti memanfaatkan segenap peluang untuk mengembangkan diri dan berkonstribusi aktif dalam politik.

Ke depan, generasi milenial tak lagi sebagai obyek melainkan menjadi agen bahkan pemimpin perubahan bagi terwujudnya Indonesia yang bermartabat dan sejahtera.*

Sumber : Partai Perindo 


Video Terkait:










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)